Rp95 Juta Transaksi QRIS dalam Dua Hari, Ekonomi Digital Lhokseumawe Mulai Menunjukkan Daya Ungkit
![]() |
| Kepala KPwBI Lhokseumawe Yudo Herlambang saat menghadiri penutupan Peukan QRIS Meusare-Sare 2026 di Harun Convention Hall, Lhokseumawe, Minggu ,17 Agustus 2026. (Foto : Dok BI Lhokseumawe) |
KabarOne.ID | Lhokseumawe - Ekonomi digital di Kota Lhokseumawe mulai memperlihatkan daya ungkitnya. Dalam dua hari pelaksanaan Peukan QRIS Meusare-Sare 2026, transaksi menggunakan QRIS tercatat mencapai Rp95 juta, mencerminkan semakin luasnya penggunaan pembayaran digital di tengah aktivitas ekonomi masyarakat.
Angka tersebut menjadi salah satu indikator penting dalam pelaksanaan Pekan QRIS Nasional (PQN) 2026) yang digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Lhokseumawe pada 16–17 Agustus 2026 di Harun Convention Hall, Lhokseumawe.
Namun, yang menarik bukan semata nilai transaksinya. Di balik Rp95 juta tersebut terdapat aktivitas ekonomi pelaku UMKM dan wakaf produktif yang mulai masuk ke dalam ekosistem pembayaran digital.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Lhokseumawe, Yudo Herlambang, menyebut tingginya transaksi digital menjadi salah satu capaian utama dalam kegiatan yang mengusung semangat “Rayakan Digitalisasi! QRISnya Satu, Menangnya Banyak!” tersebut.
“Yang paling membanggakan adalah traffic transaksi digital yang signifikan selama dua hari penyelenggaraan PQN 2026. Kami mencatat setidaknya terdapat transaksi digital melalui QRIS yang mencapai Rp95 juta, baik untuk transaksi UMKM maupun untuk wakaf produktif,” kata Yudo saat penutupan kegiatan.
Menurutnya, angka tersebut memperlihatkan adanya respons positif masyarakat terhadap transformasi sistem pembayaran. Namun, percepatan ekonomi digital membutuhkan ekosistem yang kuat dan tidak dapat dibangun oleh Bank Indonesia seorang diri.
Pemerintah daerah, perbankan, pelaku usaha dan masyarakat menjadi bagian penting dalam memastikan digitalisasi tidak berhenti pada penggunaan alat pembayaran, tetapi mampu memberikan nilai tambah bagi perekonomian daerah.
Sektor UMKM menjadi salah satu titik penting dalam agenda tersebut. Sebanyak 29 UMKM mengikuti Bazar UMKM dan seluruhnya telah menggunakan QRIS.
Selama dua hari kegiatan, nilai transaksi UMKM dan wakaf produktif, baik melalui QRIS maupun tunai, tercatat mendekati Rp140 juta.
Bagi perekonomian daerah, angka tersebut memiliki makna lebih besar dari sekadar nominal transaksi. Semakin banyak pelaku usaha masuk ke sistem pembayaran digital, semakin terbuka pula peluang untuk membangun transaksi yang lebih efisien, memperluas akses konsumen dan mendorong UMKM beradaptasi dengan ekonomi berbasis teknologi.
Antusiasme masyarakat bahkan terlihat sejak pelaksanaan Pasee QRIS Fun Run 2026. Sebanyak 1.000 peserta berhasil terdaftar hanya dalam waktu satu jam.
Momentum tersebut sekaligus dimanfaatkan untuk memperkenalkan QRIS sebagai instrumen pembayaran yang dapat digunakan dalam berbagai aktivitas ekonomi masyarakat.
Peukan QRIS Meusare-Sare juga memperlihatkan bahwa agenda digitalisasi dapat berjalan beriringan dengan kebijakan ekonomi lainnya.
Bank Indonesia bersama Pemerintah Kota Lhokseumawe menghadirkan Pasar Murah untuk membantu masyarakat mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga lebih terjangkau. Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari dukungan terhadap pengendalian inflasi daerah.
Artinya, digitalisasi tidak ditempatkan sebagai agenda yang berdiri sendiri, tetapi disandingkan dengan upaya menjaga daya beli masyarakat.
Rangkaian kegiatan juga mencakup donor darah yang diikuti 150 peserta, Pojok Literasi Bank Indonesia, Pojok QRIS, showcasing wakaf produktif, penukaran uang logam, CBP Corner, QRIS Merdeka Game, Kids Corner hingga panggung seni dan budaya.
Sekretaris Daerah Kota Lhokseumawe, A. Haris, S.Sos., M.Si., yang mewakili Wali Kota Lhokseumawe, menilai perluasan ekosistem QRIS dapat menjadi salah satu instrumen untuk memperkuat daya saing UMKM.
“Melalui perluasan ekosistem digital QRIS ini, kita tidak hanya mempermudah transaksi sehari-hari, tetapi juga menaikkan kelas UMKM kita di Kota Lhokseumawe agar mampu berdaya saing global,” ujarnya.
Penggunaan QRIS yang semakin luas perlu diikuti peningkatan kapasitas pelaku UMKM, perluasan akses pembiayaan, literasi keuangan, perlindungan konsumen serta kemampuan usaha memanfaatkan data dan teknologi untuk meningkatkan produktivitas.
Sebab, ukuran keberhasilan ekonomi digital pada akhirnya bukan hanya seberapa banyak transaksi yang dilakukan secara digital, tetapi seberapa besar digitalisasi mampu meningkatkan omzet, efisiensi, produktivitas dan daya saing pelaku usaha.
Dengan transaksi QRIS mencapai Rp95 juta dalam dua hari, Lhokseumawe menunjukkan bahwa masyarakat dan pelaku usaha semakin terbuka terhadap pembayaran digital.
Kini pekerjaan berikutnya adalah memastikan perubahan cara membayar tersebut berkembang menjadi perubahan cara berusaha dari transaksi digital menuju UMKM yang lebih produktif, formal, kompetitif dan mampu mengambil bagian lebih besar dalam pertumbuhan ekonomi daerah.(*)





