BI Lhokseumawe Waspadai Tekanan Harga Pangan, Beras dan Cabai Jadi Sorotan
KabarOne.ID | Lhokseumawe - Di tengah optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi daerah, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Lhokseumawe menaruh perhatian serius pada tekanan harga pangan yang berpotensi menggerus daya beli masyarakat.
Komoditas beras dan aneka cabai menjadi perhatian utama Bank Indonesia menyusul kontribusinya terhadap tekanan inflasi di Kota Lhokseumawe pada Juli 2026.
Kepala KPwBI Lhokseumawe, Yudo Herlambang, mengatakan persoalan inflasi pangan tidak dapat dilihat hanya dari sisi harga, tetapi juga berkaitan erat dengan kesinambungan pasokan dan produksi antardaerah.
Untuk beras, tekanan harga terjadi seiring berangsur menurunnya pasokan gabah di tingkat petani. Sementara aneka cabai turut memberikan tekanan sejalan dengan dimulainya musim tanam di sejumlah daerah sentra produksi.
“Pengendalian inflasi membutuhkan sinergi, terutama dengan daerah-daerah yang memiliki potensi sebagai sentra produksi pangan,” ujar Yudo dalam Temu Media KPwBI Lhokseumawe bertema “Sinergi untuk Mendukung Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan”, Jumat (14/8).
Menurutnya, kerja sama antardaerah tidak hanya penting untuk menjaga ketersediaan dan stabilitas harga pangan. Dalam jangka lebih panjang, konektivitas tersebut dapat diarahkan untuk membuka peluang pengembangan ekonomi dan hilirisasi komoditas.
Persoalan pangan menjadi penting karena stabilitas harga merupakan salah satu fondasi menjaga daya beli masyarakat. Ketika harga komoditas strategis meningkat, ruang konsumsi masyarakat dapat ikut tertekan dan pada akhirnya memengaruhi aktivitas ekonomi daerah.
Karena itu, BI Lhokseumawe mendorong penguatan koordinasi antara pemerintah daerah, pelaku usaha dan daerah sentra produksi agar rantai pasok pangan lebih terjaga.
Di sisi lain, KPwBI Lhokseumawe melihat digitalisasi ekonomi sebagai peluang untuk memperkuat aktivitas usaha. Hingga Juni 2026, transaksi QRIS di wilayah kerjanya mencapai Rp1,93 triliun, dengan jumlah merchant mencapai 136.179.
Digitalisasi tersebut diarahkan bukan sekadar mengubah pola pembayaran, tetapi juga membantu UMKM memperluas pemasaran, mengakses layanan perbankan dan meningkatkan peluang memperoleh pembiayaan.
Sebanyak delapan UMKM di wilayah kerja KPwBI Lhokseumawe juga telah lolos kurasi untuk mengikuti Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 di Jakarta.
Sebagai bagian dari upaya menjaga daya beli sekaligus mendorong aktivitas ekonomi masyarakat, KPwBI Lhokseumawe akan menggelar Pekan QRIS Nasional 2026 pada 16–17 Agustus di Lhokseumawe Convention Hall, yang turut dirangkai dengan bazar UMKM dan pasar murah.
Bagi BI, tantangan ekonomi Lhokseumawe ke depan bukan hanya mengejar pertumbuhan, tetapi memastikan daya beli tetap terjaga, pasokan pangan aman, UMKM berkembang, dan aktivitas ekonomi tumbuh secara berkelanjutan.(*)





