Anak Nelayan Punya Peluang, UIN Sultanah Nahrasiyah Buka Akses Kuliah 2026
KabarOne.ID | Lhokseumawe - Di negeri yang garis pantainya panjang dan desanya berjajar di tepian laut, masih banyak mimpi anak nelayan yang kandas sebelum sampai ke gerbang kampus. Realitas itulah yang menjadi latar kuat langkah UIN Sultanah Nahrasiyah menghadirkan forum SAPA PERS—bukan sekadar temu wartawan, melainkan panggung komitmen untuk memastikan pendidikan tak lagi berjarak dari rakyat kecil.
Dalam forum yang digelar Sabtu, 14 Februari 2026 itu, kampus membuka kartu secara terang: kuota beasiswa bagi anak nelayan dan masyarakat pesisir masih tersedia. Pesannya tegas—jangan biarkan informasi berhenti di ruang-ruang elit. Media diminta menjadi pengeras suara bagi mereka yang selama ini hanya menjadi penonton pembangunan.
Di tengah stigma bahwa biaya murah identik dengan kualitas seadanya, UIN Sultanah Nahrasiyah justru membalik persepsi. Kampus ini menegaskan diri sebagai universitas Islam dengan UKT terendah di Sumatera, namun tetap menjaga standar layanan akademik secara maksimal.
“Kami merupakan universitas Islam dengan UKT terendah di Sumatera. Namun bukan berarti layanan terbatas. Justru kami menghadirkan pelayanan pendidikan yang maksimal,” tegas Wakil Rektor III, Dr. Darmadi.
Pernyataan itu bukan retorika. Status akreditasi Unggul telah diraih, dan pengembangan kampus terus berjalan, termasuk rencana pembukaan tiga program studi baru: Psikologi, Teknologi Informasi, dan Ilmu Hukum—bidang yang relevan dengan tantangan zaman.
Tahun 2026, kampus mematok target 1.500 mahasiswa baru. Ini bukan sekadar ambisi statistik, melainkan ekspansi akses. Tahun sebelumnya, 1.004 mahasiswa baru diterima, dan lebih dari separuhnya—sekitar 500 orang—mengajukan beasiswa. Angka itu menunjukkan satu hal: kebutuhan nyata.
Program Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah masih menunggu keputusan pemerintah pusat. Pada 2025, sekitar 200 mahasiswa menerima KIP, sedangkan tahun sebelumnya mencapai 250 orang.
“Kuota KIP ditentukan pusat dengan sejumlah indikator, seperti jumlah mahasiswa dan akreditasi kampus. Tahun ini pengelolaannya juga sepenuhnya dari pusat, sehingga jumlahnya belum diketahui,” jelas Darmadi.
Kampus tidak tinggal diam. Penguatan akreditasi dan peningkatan kualitas institusi menjadi strategi untuk memperbesar peluang tambahan kuota.
Menariknya, mekanisme pengajuan beasiswa di kampus ini dilakukan setelah calon mahasiswa dinyatakan lulus. Sistem ini memastikan hanya mereka yang benar-benar telah menjadi bagian dari kampus yang mengajukan bantuan.
Proses verifikasi pun tidak longgar. Calon penerima wajib melampirkan surat keterangan tidak mampu dari pemerintah desa serta surat pernyataan keluarga.
“Kami ingin memastikan beasiswa benar-benar diterima oleh mahasiswa yang berhak,” ujar Darmadi tegas.
Di sinilah integritas diuji bahwa setiap rupiah bantuan negara harus jatuh ke tangan yang tepat.
SAPA PERS menjadi simbol bahwa pendidikan bukan kerja sunyi di balik tembok kampus. Media dilibatkan bukan hanya sebagai penyampai berita, tetapi sebagai mitra strategis dalam membangun kesadaran kolektif.
Sebab persoalan pendidikan bukan semata soal ruang kelas dan kurikulum. Ia adalah soal keberanian membuka pintu bagi mereka yang selama ini berdiri di luar pagar kesempatan.
Di tengah keterbatasan kuota dan ketidakpastian kebijakan pusat, UIN Sultanah Nahrasiyah memilih berdiri di garis depan: memperjuangkan akses, menjaga mutu, dan merawat harapan.
Karena bagi kampus ini, pendidikan tidak boleh menjadi hak istimewa. Ia harus menjadi jembatan yang kokoh, terbuka, dan dapat dilalui siapa saja, termasuk anak-anak pesisir yang selama ini hanya menatap kampus dari kejauhan.





