Haji Uma dan Putranya Rayakan Kelulusan Bersama
Pencapaian akademik ini menjadi catatan istimewa dalam perjalanan hidup Haji Uma. Tidak hanya berhasil menyelesaikan studi magister dengan hasil membanggakan, ia juga meraih predikat Cumlaude dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,74. Keberhasilan tersebut menunjukkan komitmen kuatnya dalam mengembangkan kapasitas diri, meskipun di saat yang sama harus menjalankan tugas-tugas kenegaraan yang menuntut perhatian dan waktu yang tidak sedikit.
Momen wisuda tersebut semakin berkesan karena berlangsung bersama putranya, Alfa Khalil Ikram, yang juga diwisuda setelah menyelesaikan pendidikan Sarjana Ilmu Komunikasi. Kehadiran ayah dan anak dalam satu prosesi wisuda menjadi gambaran nyata bahwa semangat menuntut ilmu dapat tumbuh dan diwariskan dalam lingkungan keluarga.
Bagi banyak pihak, peristiwa ini bukan sekadar seremoni akademik. Wisuda yang dijalani Haji Uma bersama putranya menjadi simbol kuat bahwa pendidikan merupakan investasi jangka panjang yang tidak dibatasi usia, profesi, maupun jabatan. Di tengah berbagai kesibukan sebagai wakil daerah di tingkat nasional, Haji Uma tetap mampu menyelesaikan studi yang ditempuh selama kurang lebih dua tahun.
Dalam keterangannya usai mengikuti prosesi wisuda, Haji Uma mengungkapkan rasa syukur atas pencapaian yang diraih. Ia menilai keberhasilan tersebut tidak terlepas dari rahmat Allah SWT, dukungan keluarga, serta kerja keras dan konsistensi selama menjalani proses perkuliahan.
“Alhamdulillah, atas rahmat dan ridha Allah SWT, perjuangan selama kurang lebih dua tahun akhirnya membuahkan hasil dengan diraihnya gelar Magister Ilmu Politik. Semoga ilmu yang diperoleh dapat diimplementasikan dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Menurut Haji Uma, pendidikan memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus memperkuat kemampuan seseorang dalam memberikan pengabdian kepada masyarakat. Oleh karena itu, semangat belajar harus terus dijaga meskipun seseorang telah memiliki karier, jabatan, atau tanggung jawab yang besar.
Ia menegaskan bahwa pendidikan bukan semata-mata untuk mengejar gelar akademik, tetapi lebih jauh sebagai sarana memperluas wawasan dan meningkatkan kapasitas diri agar mampu memberikan kontribusi yang lebih baik bagi daerah, bangsa, dan negara.
“Belajar adalah proses yang tidak pernah selesai. Apa yang diperoleh dari dunia pendidikan harus menjadi bekal untuk melayani masyarakat dengan lebih baik,” ungkapnya.
Prosesi wisuda Universitas Nasional tahun ini turut dihadiri sejumlah tokoh nasional, di antaranya Gubernur Lemhannas Dr. H. TB Ace Hasan Syadzily, Menteri Lingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat, dan Menteri Kebudayaan Prof. (Hon) Dr. H. Fadli Zon. Dalam kesempatan tersebut, UNAS mewisuda sebanyak 1.838 lulusan dari berbagai program studi dan jenjang pendidikan.
Keberhasilan Haji Uma meraih gelar magister di tengah kesibukan sebagai anggota DPD RI dinilai menjadi inspirasi bagi banyak kalangan, khususnya generasi muda Aceh. Pencapaian ini membuktikan bahwa keterbatasan waktu bukanlah alasan untuk berhenti belajar dan mengembangkan diri.
Lebih dari sekadar prestasi akademik, wisuda ayah dan anak dalam satu kesempatan menjadi pesan moral yang kuat tentang pentingnya budaya literasi dan pendidikan dalam keluarga. Semangat yang ditunjukkan Haji Uma dan putranya diharapkan dapat menjadi motivasi bagi masyarakat untuk terus meningkatkan kualitas diri melalui pendidikan, demi mewujudkan masa depan yang lebih baik dan lebih berdaya saing.(*)





