Saat Hujan Turun, Murtala Memilih Mengungsi dari Rumahnya Sendiri
![]() |
| Rumah sederhana milik Murtala di Kecamatan Kuta Makmur, Aceh Utara, yang kondisinya memprihatinkan dan membutuhkan perhatian serta bantuan rumah layak huni.(Foto : Ist) |
KabarOne.ID | Aceh Utara - Setiap kali langit mulai gelap dan suara petir terdengar dari kejauhan, dada Murtala ikut dipenuhi rasa cemas. Bagi warga Desa Meunasah Kumbang, Kecamatan Kuta Makmur, Kabupaten Aceh Utara itu, hujan bukan lagi sekadar musim melainkan ancaman yang selalu datang menghantui rumah reyot tempat ia bertahan hidup seorang diri.
Air hujan menetes tanpa ampun dari atap rumbia yang penuh lubang. Dinding kayu lapuk yang mulai terbuka tak lagi mampu menahan terpaan angin malam. Lantai tanah di dalam rumah berubah menjadi lumpur becek setiap hujan turun, sementara bohlam lampu redup yang tergantung di tengah ruangan kerap kemasukan air.
Dalam rumah berukuran sekitar 3 x 5 meter itu, tak banyak barang yang tersisa. Hanya sebuah kasur usang yang koyak di sudut ruangan, bantal lusuh, beberapa pakaian tergantung di dinding rapuh, dan aroma kayu lapuk bercampur tanah basah yang memenuhi seluruh rumah.
Saat hujan mulai deras, Murtala biasanya buru-buru mematikan arus listrik rumahnya karena takut terjadi korsleting. Setelah membungkus lampu dengan plastik seadanya, pria 47 tahun itu mengambil sarung lusuh miliknya lalu berjalan pelan menuju pos siskamling desa untuk menumpang tidur hingga pagi.
“Kalau hujan deras, rumah ini tidak bisa ditempati lagi. Semua basah,” ujar Murtala dengan suara lirih, Minggu, 17 Mei 2026.
Sudah tiga tahun terakhir ia hidup sendirian di rumah yang nyaris roboh tersebut. Rumah itu berdiri di atas pondasi bekas rumah almarhum neneknya—menjadi satu-satunya tempat yang masih ia miliki meski kondisinya semakin hancur dimakan usia.
Namun yang paling menyakitkan bagi Murtala bukanlah bocornya atap rumah ataupun dinginnya malam saat hujan turun. Luka terdalam justru datang ketika keadaan memaksanya berpisah dengan anak-anaknya sendiri.
Anak laki-lakinya kini bekerja di sebuah warung kopi di Kabupaten Bireuen, sementara anak perempuannya harus tinggal di rumah tetangga karena rumah mereka dianggap tak lagi aman untuk dihuni.
“Kadang saya lupa kapan terakhir makan bersama anak-anak,” katanya sambil menahan air mata.
Kalimat itu keluar perlahan, seolah berat untuk diucapkan.
Di tengah keterbatasan hidup, Murtala mengaku sering merasa gagal menjadi seorang ayah. Ia tidak mampu memberikan rumah yang nyaman untuk keluarganya, bahkan ketika hujan turun, anak-anaknya tak lagi bisa berteduh di rumah sendiri.
“Kalau lihat rumah orang lain terang saat hujan, saya sedih. Anak saya harus tinggal di rumah orang karena rumah kami bocor,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Setiap hari, Murtala bekerja sebagai tukang pangkas rambut di Kecamatan Kuta Makmur. Penghasilannya tidak menentu. Dari sekali memangkas rambut pria dewasa, ia memperoleh Rp20 ribu, sedangkan anak-anak Rp10 ribu. Itu pun masih harus dibagi dengan pemilik tempat pangkas.
Untuk bertahan hidup, ia sering membeli nasi bungkus seadanya ketika memiliki uang. Memasak sendiri sudah sulit dilakukan karena sebagian besar peralatan dapur di rumahnya telah rusak.
“Kadang kalau ada uang baru makan,” katanya pelan.
Beberapa waktu lalu, Murtala akhirnya berhasil mengumpulkan uang sekitar Rp2 juta dari hasil panen padi setelah membayar biaya sewa sawah. Uang itu kini ia gunakan untuk memperbaiki rumahnya sedikit demi sedikit, meski dirinya sadar jumlah tersebut masih jauh dari cukup.
“Baru sekarang bisa kumpul uang segitu. Jadi saya mulai perbaiki semampunya,” ujarnya.
Hampir seluruh bagian rumah harus dibangun ulang. Tiang rumah mulai miring, papan kayu lapuk, dan atap rumbia dipenuhi lubang besar. Namun hingga kini, Murtala mengaku belum pernah menerima bantuan rumah layak huni maupun bantuan sosial lainnya, meski beberapa kali diminta melengkapi berkas pengajuan bantuan.
Geuchik Desa Meunasah Kumbang, Abdul Munir, membenarkan kondisi memprihatinkan yang dialami warganya tersebut. Menurutnya, Murtala termasuk warga miskin yang layak mendapatkan bantuan rumah layak huni.
“Murtala memang sangat layak dibantu. Pemerintah desa siap membantu proses administrasi apabila ada bantuan dari pemerintah maupun pihak lainnya,” ujar Abdul Munir.
Malam itu, ketika hujan kembali turun membasahi Desa Meunasah Kumbang, Murtala kembali mematikan listrik rumahnya sebelum melangkah menuju pos jaga desa dengan sarung lusuh di tangan.
Di belakangnya, rumah kecil yang nyaris roboh itu berdiri dalam gelap dan sunyi.
Sebuah rumah yang perlahan hancur bersama mimpi seorang ayah yang hanya ingin anak-anaknya memiliki tempat untuk pulang.(*)




